Mengenal Lebih Dekat, Sosok Sriati., S.Pd. 20 Tahun Mengajar di SDN 001 Sangatta Selatan.

Banyak orang memiliki pekerjaan atau profesi impian, seperti dokter, insinyur, dan lainnya. Namun bagi Sriati., S.Pd,
profesi sebagai Guru menjadi impiannya dan cita-cita sejak kecil hingga usia remaja.

Kenapa impiannya menjadi guru? Ada banyak alasan yang membuat saya yakin untuk mengejar profesi ini, bahkan hingga saat saya dewasa.

Menurut Sriati, menjadi guru dan mengajar anak-anak dan bisa mengantarkan mereka ke jenjang yang lebih tinggi.

Anak-anak nantinya menjadi yang berkarakter, berbudi pekerti luhur,selalu hormat , patuh serta menjadi kebanggaan kedua orang tua.

Sukses dunia ahirat,menjadi anak yang soleh dan soleha.dan kedepannya dia akan berkarir dan sukses di bidangnya masing-masing”terang Sriati yang pernah memperoleh penghargaan sebagai “Keluarga Sakinah” Tingkat Kabupaten Kutai Timur

Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menganugerahi “Keluarga Sakinah” karena dinilai menjadi pasangan suami istri yang bahagia dan harmonis dan menjalankan program Pemerintah selama 36 tahun membina rumah tangga dengan suami tercinta Abdullah., S.Pdi, yang saat ini bertugas pada Dinas Provinsi Kalimantan Timur sebagai Pengawas Pendidikan Agama Islam.

Dari pernikahannya itu pasangan Abdullah dan Sriati, dikarunia dua orang putri, masing-masing bernama Rimanti Lutfiani yang kini mengikuti jejaknya menjadi Guru SMAN 1 Sangatta Utara, dan Dwianti Nur Rahmah Dosen Psikologi Universitas Mulawarman.

“Menjadi guru, maka akan dianggap menjadi sosok yang ditiru, juga jadi panutan”jelas Sriati yang suka berhijab warga hijau ini.

Guru adalah pengganti orang tua siswa di sekolah, dimana ia tidak hanya dituntut untuk mengajari siswa-siswanya mengenai mata pelajaran yang diampunya, namun juga mencontohkan prilaku hidup yang baik.

“Alasan lain yang mendorong saya untuk berprofesi sebagai guru adalah karena pahala yang “dihasilkan” dari pekerjaan tersebut.”ujarnya dengan senyuman

Sebagai seorang muslim, yang percayi sabda Nabi Muhammad SAW, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara (yaitu): amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh.” (HR Muslim no. 1631)

Salah satu amal yang disebutkan dalam hadis tersebut selaras dengan tugas seorang guru, yaitu mengajarkan ilmu kepada murid-murid.

Jika ilmu yang diajarkan kepada murid kemudian diteruskan oleh murid itu kepada orang lain, maka makin banyak pula pahala yang diperoleh guru.

“Saat ini saya bersyukur karena cita-cita saya sudah terwujud bahkan sudah 20 tahun mengabdikan diri menjadi guru. Saya berharap bisa menjadi guru yang baik, meneladani, serta menginspirasi murid-murid.

“Saya ingin menjadi guru yang dicintai oleh para murid dan menjadi jembatan bagi mereka dalam meraih cita-cita ( Ros/liku1)